“Bumi Loh Jinawi “ Nasibmu di Kala Pandemi karya Putri Wibiana Pratiwi

“Bumi Loh Jinawi “  Nasibmu di Kala Pandemi

( karya Putri Wibiana Pratiwi,XI MIPA 3 )

Sudah dua tahun ini semenjak pandemi covid - 19 warga desa Manisrenggo, kecamatan Prambanan tidak mengadakan festival Bumi Loh Jinawi. Biasanya festival tersebut  dilaksanakan tanggal 28 Agustus di jalan Manisrenggo, perempatan penghubung desa Bendan dengan desa Tanjungsari. Festival ini dipimpin oleh Bupati Klaten dan dihadiri para tamu undangan lainnya. Kegiatan ini diadakan karena mengucap syukur atas kelimpahan hasil bumi kepada Tuhan.

             Pada festival Sedekah Bumi Loh Jinawi tahun 2019 yang lalu, berbagai desa di kecamatan Manisrenggo ikut ambil bagian sebagai peserta. Banyak warga di luar Manisrenggopun turut hadir untuk memeriahkan dan melihat berbagai kesenian di sana. Mereka terdiri dari  anak-anak hingga lanjut usia.  Festival tahunan ini  juga menampilkan berbagai tarian daerah, gunungan yang di hiasi sayur-sayuran dan buah-buahan, drum band dari berbagai sekolah, paskibraka dari SMK tunggal cipta, kesenian, dan lain-lain. Selain itu,  tenaga medis dari puskesmas Manisrenggo juga ikut serta memeriahkan festival ini. Mereka berjalan dari SMK Tunggal Cipta hingga SMP N 1 Manisrenggo.  Wah, seru juga ya ternyata!

Di perempatan jalan Tanjungsari-Manisrenggo, kita akan melewati dua  panggung, panggung di sebelah kiri diperuntukkan bagi Bupati dan para tamu undangan. Sedangkan, panggung di sebelah kanan digunakan untuk meletakkan gamelan. Dengan begitu kita  dapat bertemu Bupati Klaten secara langsung yang menyaksikan acara tersebut. Bupati Klaten turut mengapreasi festival ini.

            Festival ini dimulai dari pukul 14:00 s.d 17:00 WIB. Walaupun sampai sore, tidak akan melunturkan semangat peserta maupun penonton. Mereka tetap antusias menyaksikan acara ini mulai dari sang surya yang bertengger manis di atas kepala hingga sang surya tenggelam dan digantikan oleh sang senja yang memukau. Lautan manusia di tempat ini pun masih belum surut.

Festival ini diadakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Klaten untuk melatih kekompakan, menambah pertemanan, menambah semangat gotong - royong, dan menampilkan bakat- bakat terpendam serta juga wawasan.  Bukan saja sarana hiburan, tradisi turun temurun itu juga ajang pamer keberhasilan pembangunan desa-desa di Manisrenggo, Klaten.  Kita hidup di masyarakat sudah seharusnya kita peduli terhadap sesama, saling merangkul, dan juga saling tolong menolong.  

            Tetapi semenjak pandemi melanda semua kegiatan ditadakan. Apalagi semenjak dikeluarkannya edaran tentang PPKM. Aktivitas masyarakat semakin terbatas. Mulai dari kegiatan keagaman hingga perbisnisan semua menjadi terhambat. Semua warga terkena dampak covid-19. Pemerintah mengatakan dunia sedang tidak baik-baik saja, kita tidak tahu kapan akan berhentinya covid-19. Kita hidup akan berdampingan dengan covid-19. Mau bagaimana lagi ? Ada dengan atau tidaknya covid-19 kita harus tetap hidup. Kita juga harus dapat menjalani hari dengan semangat, percaya diri dan pantang menyerah. Terus berkarya untuk mewujudkan cita cita bangsa.

            Ketika saya tanya Wahyu,  salah satu warga Manisrenggo "Apakah Bapak rindu dengan festival Bumi Loh Jinawi ?" Bapak tiga anak tersebut menjawab " Ya, saya kangen dengan festival Bumi Loh Jinawi tetapi bagaimana lagi demi masyarakat dan demi keluarga kita tidak boleh berkerumun untuk memutus rantai covid-19." 

" Bagaimana jika festival ini tetap diadakan dan mematuhi protokol kesehatan tetap?" tanyaku. Beliau menjawab " Lebih baik ditunda karena walaupun tetap diadakan dan mematuhi protokol kesehatan pasti mereka tetap berkerumun di karenakan jumlah warga terlalu banyak sehingga akan berdesak-berdesakan dan jadi menambah kemungkinan penularan covid-19."

" Dampak apa saja yang Bapak alami selama pandemi covid-19 ?" tanyaku.  "Banyak mbak, dari penghasilan saya yang menurun dari yang semula Rp.600.000,00 jadi Rp.300.000.00 per Minggu. Itu aja cuman cukup buat makan belum membayar sekolah, membayar utang saya, saya juga harus memutar pikiran  agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari."

'" Apakah tidak mendapat  bantuan pemerintah pak ?" tanyaku.

" Engga mbak, saya tidak mengharapkan bantuan.” Selagi kaki saya bisa berdiri dan tangan saya masih berfungsi saya masih bisa mencari nafkah sehari-hari." Jawabnya.

Begitulah kata salah satu warga di desa Manisrenggo. Memang dampak covid-19 luar biasa. Tetapi kita tidak boleh menyerah kita tetap optimis kita bisa maju agar Indonesia terlepas dari covid-19.  

             Kondisi jalan Manisrenggo pun sepi karena PPKM hanya ada beberapa truk, mobil dan motor yang berlalu lalang. Sangat berbanding terbalik sekali untuk sekarang. Yang dulunya setiap pinggir jalan terdapat lautan manusia sekarang sepi tidak seperti dulu lagi. Ternyata banyak sekali sudah korban covid-19, dari sekolah yang diliburkan yang mengharuskan siswa belajar dari rumah, pekerja yang terkena PHK atau kehilangan pekerjaan, dan kehilangan keluarga yang sangat kita sayang. Maka jagalah selagi masih ada di sampingmu. Harus berapa nyawa yang dikorbankan?  Mematuhi protokol kesehatan saja tidak cukup harus dilandasi dengan kesadaran kita.

             Masih ingat dengan acara kemerdekaan kemarin ? Banyak sekali, kan yang menggunakan baju adat daerah. Itulah bukti Indonesia mempunyai keberagaman budaya, suku, ras, golongan, dan agama. Memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi satu jua. Di hari kemerdekaan kemarin, banyak anak muda membuat beragam video di aplikasi tik tok tentang kemerdekaan dengan menampilkan beragam pakaian daerah. Bukan itu juga mereka juga menampilkan kekayaan yang dimiliki indonesia. Sangat menarik bukan ?

Kita sebagai generasi muda harus mau meneruskan cita-cita bangsa. Bangga menjadi warga Indonesia. Indonesia harus bangkit dari keterpurukan ini. Kegagalan pasti ada karena jika tidak ada yang namanya gagal pasti kita tidak akan sukses. Semoga pandemi cepat berakhir agar aktivitas bisa kembali dengan normal. Terbebas dari masker dan bisa menghirup udara dengan segar. Bertemu dan bercengkerama dengan teman. Ekonomi sedikit demi sedikit mulai bangkit, kebahagiaan hadir untuk menghapus kesedihan.

            Pandemi ada agar kita sadar akan keluarga. Banyak orang yang lupa kerena sibuk bekerja. Melupakan sesuatu yang kecil padahal sangat berharga bagi mereka. Keluarga adalah segala-galanya bagi kita. Banyak anak yang tidak mempunyai keluarga tetapi mereka masih bersyukur, tapi kita yang mempunyai keluarga malah menyiakan mereka. Tanpa dukungan mereka kita tidak bisa seperti sekarang. Cepat sembuh bumiku kami ingin terbebas dari covid-19.