PENARI, PELAJAR, DAN PANDEMI karya Ratri Azzahra Utami

PENARI, PELAJAR, DAN PANDEMI

( karya Ratri Azzahra Utami ,XI MIPA 5 )

 

Raidersta Gishela Arsenallevia biasa dipanggil Shela adalah pelajar asal Klaten yang duduk di bangku kelas 12 SMK Penerbangan Angkasa AAG Adisutjipto Yogyakarta. Ia mencintai tari sejak kelas 2 SD dan belajar tari di sebuah sanggar. Karena kecintaannya pada dunia seni tari sejak kecil, dia sering tampil di berbagai acara. Salah satu event yang diikutinya adalah ketika dirinya ditunjuk Dispora Klaten untuk tampil di Bali dalam acara Hari Jadi Kabupaten Buleleng pada tahun 2016. Sedangkan untuk festival – festival tari,  gadis yang selalu tampak ceria ini mengikuti kegiatan festival tari di berbagai tempat seperti di Pacitan, Jepara, Wonogiri, dan Sendratari Ramayana Candi Prambanan.

Di masa pandemi segala sesuatu dibatasi, termasuk dalam berkesenian. Keadaan ini membuat dia tidak bisa sepenuhnya menyalurkan kecintaannya pada tari. Hal yang paling dirindukan adalah mengikuti pentas seni Sendratari Ramayana di Candi Prambanan setiap bulan purnama. Dalam kegiatan pentas seni tersebut, dia bisa berinteraksi langsung dengan penonton. Hal yang paling membahagiakan baginya ketika melihat penonton bertepuk tangan dan tersenyum. Senda gurau di belakang panggung bersama teman – teman sebelum pentas, saling membantu dalam merias dan berbusana, berdiskusi tentang  jalan cerita hari itu serta bagaimana membangun chemistry agar jalan cerita berjalan sesuai alurnya dan lebih hidup tak kalah membahagiakan. Karena jalan ceritanya yang panjang, dia bisa mendapatkan banyak peran, contohnya saat episode Kumbakarna gugur, dia berperan sebagai Buto Wedok. Selain itu, saat episode Anoman Obong, dia berperan sebagai Putri Taman. Namun, saat episodenya berganti, peran yang didapatkan juga berganti. Untuk menghayati sebuah tarian menurutnya seorang penari memiliki chemistry masing – masing, sebagai contoh saat gendhing dimainkan, seorang penari langsung memiliki chemistry dengan gendhing tersebut sehingga gerakan tubuh, jiwa, dan rasa menyatu. 

Saat event – event besar gadis berusia 17 tahun ini sering mendapatkan uang jajan yang menurutnya itu hanyalah bonus, karena yang paling penting kesenangan dan kecintaannya pada tari tersalurkan. Walaupun sudah tidak ada pentas seni tari, dia tetap berusaha mengasah kemampuan menarinya dengan mengikuti lomba – lomba tari dari  media sosial serta mengikuti give away yang syarat utamanya adalah menunjukkan kemampuan dalam menari. Akan tetapi kepuasan yang didapat dirasa lebih membanggakan jika ditonton secara langsung karena tidak semua orang menggunakan media sosial.

Saat sanggar tari sudah tidak mengadakan latihan lagi dikarenakan PPKM, dia mengembangkan kemampuannya dengan berlatih sendiri di rumah. Dahulu sepulang sekolah dia memiliki banyak kesibukan, seperti latihan menari dan ikut pentas seni. Hal itu tidak menjadi beban baginya walaupun dia memiliki banyak kegiatan di sekolah. Gadis yang posturnya tinggi dan langsing ini sadar bahwa selain menghibur, menari juga dapat mengasah kedisiplinan dan mengontrol emosi seseorang.